by

Sewindu BWCF: Zoetmulder dan Intelektualitas Kita

-Parbud-8 views

Jakarta, NusantaraTodays.com- Konferensi Pers Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2019, Bertempat di Cemara 6 Galeri – Museum, Jakarta. Kamis (07/11/2019).

Tahun 2019 ini adalah tahun ke 8 pelaksanaan Borobudur Writers and Cultural Festival. Di usianya yang sewindu ini maka BWCF bermaksud memperingati jejak keilmiahan karya-karya Zoetmulder. BWCF 2019 mengambil tema Tuhan dan Alam (Membaca Ulang Panteisme -Tantrayana dalam Kakawin dan Manuskrip-manuskrip Kuno Nusantara). Panteisme adalah tema yang sering diulas oleh Romo Zoetmulder. Panteisme adalah suatu paham filsafat dan teologi yang beranggapan bahwa Tuhan dan alam adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan.

Gagasan Panteisme menolak aliran pemikiran Deisme yang menganggap setelah menciptakan alam, Tuhan mengatasi alam dan terlepas dari alam. Mereka yang menganut paham Deisme berkeyakinan alam kemudian dapat berkembang sendiri tanpa tergantung kepada Tuhan.

Sebaliknya Panteisme melihat alam adalah perwujudan emanasi Tuhan. Maka dari itu Tuhan setelah penciptaan hadir di mana-mana di alam dan terus menerus aktif di alam.

Menurut Romo Zoetmulder pemikiran ketuhanan yang ada dalam manuskrip-manuskrip kakawin dan suluk Jawa kuno cenderung ke arah Panteisme. Dalam buku Manungga/ing Kawula Gusti, Romo Zoetmulder menulis menurut pandangan Pantheis, dunia terlebur dalam Tuhan atau Tuhan manunggal dengan dunia.

Setelah penciptaan alam dunia, Tuhan tidak mengundurkan diri melainkan terus menerus menciptakan alam dunia. Dan dunia terus menerus tergantung kepada Tuhan.

BWCF 2019 ingin mengangkat tema ini. Dan mendiskusikan bahwa gagasan demikian bukan hanya dikenal dalam pemikiran Hindu-Buddhis Jawa kuno tapi juga sampai pemikiran tasawuf muslim yang berkembang di nusantara. Selain tema panteisme, secara khusus kami juga ingin mengupas apa yang disebut pemikiran Tantrayana.

Meski Romo Zoetmulder pribadi dalam penelitian-penelitiannya sama sekali tidak menyentuh isyu Tantrayana dalam religi masyarakat Jawa kuno, namun dalam dunia akademis studi-studi sejarah Budhisme belakangan ini makin menaruh minat untuk mengkaji bagaimana antara kurun waktu 7-13 di seluruh wilayah Budhisme di Asia, pemikiran Tantrayana atau Budhisme esoteris tumbuh subur.

BWCF melihat selama ini belum pernah ada sama sekali sebuah seminar atau simposium yang khusus mengkaji Tantrayana. Pemikiran Tantrayana, Vajrayana, Mantrayana di zaman lampau sering kali disalah pahami karena sering direduksi sebagai aliran rahasia Budhisme yang praktek-prakteknya berkaitan dengan seks, tanpa pernah secara kritis membahas duduk perkara religinya.

Padahal menurut Charles D Orzech, Henrik H Sorensen, Ronald M Davidson, tiga pakar Budhis dalam buku: Esoteric Buddhism and Tantras in East Asia, Tantrayana adalah suatu bagian dari perkembangan Budhisme Mahayana. Yang kemudian membedakan diri dengan jalan Mahayana biasa adalah ritual-ritual dalam Tantrayana, Vajrayana, Mantrayana banyak menekankan unsur puja rahasia untuk memanggil para dewata atau bodhisatwa dengan cara mengolah unsur-unsur rahasia mudra, mantra, mandala dan para, penganutnya sebelum melakukan ritual melalui abhiseka atau penahbisan lebih dahulu.

Dalam BWCF 2019 ini kami akan mengundang berbagai pakar untuk mengupas Panteisme dan Tantrayana di nusantara. Termasuk malam ini kami ingin mengundang Doktor Andrea Acri dari Paris untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan mengenai Tantrayana di Nusantara antara abad 7-13 M.

Saya juga ingat pada tahun 1995 setelah Romo Zoetmulder wafat, untuk memperingati 100 hari meninggalnya beliau di Yogya pada tanggal 10 Oktober 1995 diadakan sebuah seminar berjudul: Sarasehan Nasional menggugat Keintelektualan kita. 100 hari Wafatnya Zoetmulder SJ. Judul seminar ini menurut hemat saya masih sangat penting di era digital sekarang.

Seminar ini mengingatkan kita bahwa keintelektualitasan kita betapapun kita kini warga global seyogyanya adalah keintelektualitasan yang berakar kokoh pada apa yang kita miliki sendiri. Suatu jenis keintelektualitasan yang memiliki akar-akar kepada kekayaan ruhani dan budaya yang kita miliki sendiri.

Para sahabat Romo Zoetmulder mengenang beliau juga disiplin dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. Benar bila ada yang mengatakan, selama berkarya sebagai imam dan cendekiawan di kampus, tidak pernah terdengar desas-desus tentang kecerobohan Romo Zoetmulder.

Keugaharian Romo Zoet, kedalaman ilmu Romo Zoet, di tengah situasi pragmatis intelektualitas yang penuh negosiasi-negosiasi, kompromi-kompromi dan “pengkhianatan-pengkhianatan intelektual sekarang menjadi sesuatu yang amat langka. Dan kita harus bercermin kepadanya. Selamat mengikuti BWCF 2019. (Hera)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed