Hari Tani Nasional 2026: Poros Muda Nusantara Dorong Reforma Agraria Berkeadilan untuk Wujudkan Kesejahteraan Petani

BERITA95 Dilihat

Tangerang Selatan, 20 September 2026 — Memperingati Hari Tani Nasional 2026, Pengurus Pusat Poros Muda Nusantara (PMN) menggelar Diskusi Publik bertajuk “Agraria untuk Kesejahteraan Rakyat: Refleksi Hari Tani Nasional 2026” di Lyka Coffee, Tangerang Selatan, pada Minggu (20/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk merefleksikan berbagai persoalan agraria di Indonesia sekaligus membahas keterkaitannya dengan kesejahteraan petani, kedaulatan pangan, keberlanjutan lingkungan, serta arah pembangunan pertanian di masa mendatang.

Hari Tani Nasional menjadi momentum penting untuk memberikan penghormatan dan apresiasi terhadap para petani yang selama ini menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pangan masyarakat. Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk kembali mengingat bahwa persoalan pertanian tidak dapat dilepaskan dari persoalan agraria dan bagaimana sumber daya tanah dikelola secara adil.

Bagi Poros Muda Nusantara, peringatan Hari Tani Nasional tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial maupun ucapan di media sosial. Momentum tersebut perlu menjadi ruang refleksi mengenai sejauh mana kebijakan agraria dan pembangunan pertanian telah memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat pedesaan.

Persoalan agraria sendiri memiliki cakupan yang luas. Selain menyangkut penguasaan dan kepemilikan tanah, isu agraria berkaitan dengan akses petani terhadap lahan, keberlanjutan usaha pertanian, perlindungan terhadap petani, penguatan ekonomi desa, hingga keberlanjutan lingkungan.

Di tengah agenda Indonesia dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan, aspek tersebut menjadi semakin penting. Peningkatan produksi pangan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani, kepastian akses terhadap sumber daya agraria, peningkatan nilai tambah hasil pertanian, serta regenerasi petani di kalangan generasi muda.

Koordinator Pusat Poros Muda Nusantara sekaligus narasumber dalam kegiatan tersebut, Hendry Hermawan, menyampaikan bahwa Hari Tani Nasional harus menjadi momentum untuk kembali menempatkan petani sebagai bagian utama dalam pembahasan pembangunan nasional.

“Hari Tani Nasional bukan hanya momentum untuk memberikan ucapan selamat kepada para petani, tetapi juga kesempatan bagi kita untuk memberikan apresiasi sekaligus melakukan refleksi terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi. Petani merupakan bagian penting dari kehidupan bangsa karena dari tangan merekalah pangan masyarakat diproduksi,” ujar Hendry.

Menurut Hendry, pembahasan mengenai agraria tidak cukup hanya dilihat dari aspek tanah dan kepemilikan. Kebijakan agraria harus memiliki orientasi yang jelas terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan masyarakat pedesaan.

“Kita harus melihat agraria sebagai bagian dari persoalan kesejahteraan rakyat. Ketika akses terhadap tanah, produksi pangan, lingkungan, dan ekonomi desa saling berkaitan, maka kebijakan agraria juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Reforma agraria harus diarahkan pada terciptanya keadilan dan kesejahteraan, bukan hanya pada aspek administratif,” jelasnya.

Ia menambahkan, upaya mewujudkan kedaulatan pangan tidak dapat hanya diukur dari seberapa besar produksi pertanian yang dihasilkan. Kondisi sosial dan ekonomi petani sebagai produsen pangan juga harus menjadi perhatian.

“Tidak cukup bagi kita berbicara tentang kedaulatan pangan jika kesejahteraan petaninya masih menjadi persoalan. Petani harus diposisikan sebagai subjek pembangunan. Karena itu, peningkatan produktivitas harus disertai dengan perlindungan petani, penguatan akses terhadap lahan, kepastian pasar, peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian, serta dukungan terhadap generasi muda yang ingin masuk ke sektor pertanian,” tambah Hendry.

Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah Hari Tani Nasional juga penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memahami bahwa persoalan agraria merupakan bagian dari perjalanan panjang bangsa dalam memperjuangkan keadilan sosial.

Karena itu, keterlibatan pemuda dalam isu agraria dinilai perlu diperkuat. Generasi muda tidak hanya memiliki peran sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pengawasan, pengembangan gagasan, serta pencarian solusi terhadap berbagai tantangan pertanian dan agraria.

“Pemuda harus mulai melihat pertanian dan agraria sebagai persoalan masa depan. Tanah, pangan, lingkungan, dan desa merupakan bagian yang saling berkaitan. Kalau generasi muda tidak mulai memahami dan terlibat dalam persoalan ini, maka berbagai persoalan agraria hari ini berpotensi menjadi beban bagi generasi berikutnya,” ungkap Hendry.

Dalam momentum Hari Tani Nasional 2026 ini, Poros Muda Nusantara juga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh petani Indonesia sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

“Selamat Hari Tani Nasional 2026. Terima kasih kepada seluruh petani Indonesia yang terus menjaga pangan negeri. Semoga momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperjuangkan pertanian yang berkeadilan, berkelanjutan, dan mampu memberikan kehidupan yang layak bagi para petani.”

PMN berpandangan bahwa masa depan pertanian Indonesia membutuhkan kebijakan yang mampu mempertemukan agenda reforma agraria, kedaulatan pangan, perlindungan lingkungan, penguatan ekonomi desa, dan peningkatan kesejahteraan petani.

Pemahaman terhadap sejarah, apresiasi terhadap kerja petani, serta dukungan nyata terhadap sektor pertanian menjadi bagian penting dalam membangun sistem pertanian yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.

Melalui diskusi publik ini, Poros Muda Nusantara berharap semakin banyak masyarakat dan generasi muda yang memahami pentingnya persoalan agraria serta ikut terlibat dalam mengawal kebijakan yang berkaitan dengan tanah, pertanian, pangan, dan lingkungan.

Peringatan Hari Tani Nasional 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi momentum untuk menyampaikan ucapan, tetapi juga menjadi titik refleksi dan penguatan komitmen bersama untuk membangun masa depan agraria dan pertanian Indonesia yang lebih adil, berdaulat, dan berkelanjutan.