Sekolah dan Orang Tua Bersinergi Cegah Bullying Sejak Dini

BERITA163 Dilihat

JAKARTA — Pencegahan bullying di lingkungan pendidikan membutuhkan keterlibatan sekolah dan keluarga. Komunikasi yang terbuka dinilai menjadi salah satu kunci agar persoalan yang dialami anak dapat diketahui dan ditangani sejak dini.

Hal itu menjadi salah satu pesan dalam Seminar Anti-Bullying yang digelar Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta bersama SDN Tanjung Barat 04 Pagi, Jakarta Selatan, Senin (28/9/2026).

Mengangkat tema “Anak Aman, Sekolah Nyaman: Peran Orang Tua Mencegah Bullying”, kegiatan tersebut diikuti orang tua murid kelas 1 hingga kelas 6 yang tergabung dalam Komite Sekolah dan koordinator kelas.

Seminar juga menjadi bagian dari persiapan peluncuran program MeSRA (Mewujudkan Sekolah Ramah Anak) DPW DKI Jakarta.

Plt Kepala SDN Tanjung Barat 04 Pagi, Nanik Wijayanti, M.Pd., mengatakan sekolah menyambut positif kegiatan tersebut.

Menurutnya, keterlibatan orang tua sangat penting karena proses pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga.

“Saya sangat berterima kasih kepada GPIB, khususnya juga kepada komite dan orang tua murid dari SDN Tanjung Barat 04 Pagi yang mendukung sosialisasi sekolah aman tanpa bullying,” kata Nanik kepada awak media.

Nanik mengatakan sekolah membutuhkan dukungan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi siswa.

“Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan orang tua dan sekolah dapat bersinergi mengurangi bullying, terutama karena orang tua adalah pendidik pertama di rumah,” ujarnya.

Ia mengingatkan orang tua agar memperhatikan cara berkomunikasi dengan anak. Menurutnya, candaan yang dianggap biasa oleh orang dewasa dapat memberikan arti berbeda bagi anak.

Salah satu yang disorot adalah penggunaan panggilan yang berkaitan dengan kondisi fisik.

“Di sekolah tidak boleh mengatakan gendut, hitam, pesek dan sebagainya. Tapi di rumah ibunya memanggil anaknya dengan panggilan seperti itu. Padahal di sekolah tidak boleh body shaming,” katanya.

Nanik menilai sekolah dan orang tua perlu memiliki pemahaman yang sama agar pesan mengenai pencegahan bullying tidak berhenti hanya di lingkungan sekolah.

“Biar kita satu persepsi, satu pemahaman antara guru dengan orang tua di rumah. Jadi apa yang diajarkan di sekolah, itu juga yang diajarkan di rumah,” tuturnya.

Selain persoalan bullying, Nanik menekankan pentingnya pembentukan karakter anak.

“Yang penting itu, yang utama kita tanamkan adalah karakter,” ujarnya.

Anak Butuh Ruang Aman untuk Bercerita

Pemateri seminar, Evi Fatmawati, A.Md., mengatakan orang tua memiliki posisi penting dalam mendeteksi persoalan yang dialami anak.

Menurut Evi, orang tua harus membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.

“Orang tua harus menjadi orang yang pertama mendengar dan menjadi seorang yang terpercaya bagi cerita anaknya,” kata Evi.

Ia mengatakan komunikasi antara sekolah dan keluarga juga harus berlangsung secara dua arah.

Menurut Evi, sekolah dapat menyediakan mekanisme pengaduan agar siswa memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan yang dialaminya.

“Setidaknya harus ada dua arah komunikasi antara orang tua dan sekolah. Sekolah bisa mengadakan semacam kotak pengaduan yang bisa dilakukan untuk anak muridnya,” ujarnya.

Evi juga mengajak orang tua menjadikan rumah sebagai tempat yang aman bagi anak.

“Saya ingin orang tua menjadi orang yang ternyaman untuk anak-anaknya, bisa menjadi rumah yang aman untuk anak-anaknya,” katanya.

Dengan komunikasi yang terbuka, orang tua diharapkan dapat mengetahui lebih cepat apabila anak mengalami persoalan di lingkungan sekolah maupun pergaulannya.

MeSRA Jadi Program GPIB DPW DKI Jakarta

Ketua GPIB DPW DKI Jakarta, Edy Dwi Yanto, SE, mengatakan program MeSRA merupakan salah satu program yang mulai dijalankan organisasi tersebut di bidang pendidikan.

“Alhamdulillah kami ke sini kedua kalinya. Yang kemarin tanggal 15 kita ada santunan Al-Qiyatin. Dan Alhamdulillah tanggal 28 ini kita launching juga mengenai program MeSRA,” kata Edy.

Edy mengatakan GPIB DPW DKI Jakarta juga menyiapkan sejumlah program lain yang akan dijalankan secara bertahap.

“Insyaallah nanti ada program-program yang lain, seperti program sekolah sehat. Ada juga cegah tawuran, kita juga ada pemberantasan narkoba. Kita akan launching juga nanti bertahap,” ujarnya.

Ia berharap program tersebut dapat memberikan manfaat bagi sekolah dan keluarga.

“Semoga bermanfaat untuk ibu-ibu di sini atau orang tua, sebagai upaya untuk nanti membentuk anak-anak yang berkarakter,” kata Edy.

Seminar tersebut dihadiri Plt Kepala SDN Tanjung Barat 04 Pagi Nanik Wijayanti, M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Rasyid Indra Jaya, S.Pd., Ketua Umum GPIB Ir. Agung Karang yang diwakili Fitri Fajarasih, Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Edy Dwi Yanto, SE, Ketua Komite SDN Tanjung Barat 04 Dani Hendro, Ketua MeSRA DPW DKI Jakarta Sonya Mercyna, serta para guru dan karyawan sekolah.

Melalui seminar tersebut, GPIB DPW DKI Jakarta dan SDN Tanjung Barat 04 Pagi mendorong terbangunnya komunikasi yang lebih kuat antara sekolah dan orang tua sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.