NIAS – Di dalam kerangka kayu rumah yang sedang bertransformasi, Jumat (6/11/2026), suara sekop mengaduk semen bersahut-sahutan dengan roda gerobak dorong yang bergulir di atas tanah. Momen dinamis ini menandai capaian progres 70 persen dalam pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Ibu Yutisa Halawa melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 TA 2026 Kodim 0213/Nias. Dokumentasi lapangan menampilkan kolaborasi tanpa sekat: personel Satgas dalam seragam loreng bekerja berdampingan dengan warga sipil, memindahkan adukan beton untuk memperkuat lantai dan struktur bangunan—sebuah visualisasi nyata bahwa kemanunggalan TNI-Rakyat tidak hanya ada di atas kertas, tetapi terwujud dalam setiap tetes keringat dan gerakan fisik di lokasi proyek.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Sekarang rumah saya sudah memiliki atap yang bagus, sehingga kalau hujan tidak lagi kehujanan seperti sebelumnya,” ungkap Ibu Yutisa Halawa dengan mata berkaca-kaca kepada awak media. Pernyataan sederhana ini menyimpan makna mendalam: bagi seorang ibu, atap dan lantai yang kokoh bukan sekadar elemen arsitektur, melainkan batas antara keamanan keluarga dan ketidakpastian alam. Setiap kilogram semen yang diaduk dan dipindahkan oleh tangan-tangan prajurit dan warga adalah investasi langsung terhadap ketenangan batin penghuni rumah, mengubah rasa was-was menjadi rasa aman yang permanen.
Komandan Kodim (Dandim) 0213/Nias Letkol Inf Indra Rukmana, S.H., menegaskan bahwa RTLH adalah manifestasi kepedulian TNI terhadap martabat manusia. “Kami tidak hanya membangun dinding dan atap; kami sedang membangun kembali kepercayaan diri sebuah keluarga. Lantai yang rata dan atap yang rapat adalah hak dasar yang harus dipenuhi agar warga bisa hidup layak,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sisa pekerjaan 30 persen akan diselesaikan dengan standar kualitas tinggi, memastikan rumah ini menjadi warisan ketahanan bagi generasi mendatang.
Kehadiran Satgas TMMD yang turun langsung mengaduk semen dan mendorong gerobak membuktikan bahwa Tentara Nasional Indonesia memahami bahwa kesejahteraan rakyat dibangun dari hal-hal paling mendasar. Ketika prajurit dan warga bersatu padu di tengah debu konstruksi, mereka sedang merajut ikatan persaudaraan yang tak tergoyahkan. Warisan TMMD ke-130 di sini kelak tidak hanya berupa rumah yang berdiri tegak, tetapi juga keyakinan mendalam bahwa di negeri ini, tidak ada warga yang dibiarkan hidup dalam kerentanan—simbol abadi bahwa kemanunggalan TNI-Rakyat dibangun dari kepedulian terhadap hal paling privat namun paling universal: hak setiap manusia untuk merasa aman dan bermartabat di rumahnya sendiri.
