Di Tengah Tumpukan Batako, Dantim RTLH Ibu Yutisa Halawa Tegaskan: Kualitas Hunian Adalah Martabat, Bukan Sekadar Selesai

BERITA, TNI74 Dilihat
banner 468x60

NIAS – Di teras rumah kayu yang masih dalam proses renovasi, Kamis (5/11/2026), tidak ada ruang rapat ber-AC atau meja konferensi. Yang ada hanyalah Serma Kurniawan Telaumbanua, Dantim sasaran RTLH Ibu Yutisa Halawa, duduk bersila di atas kursi plastik biru di antara tumpukan batako dan karung semen, memberikan arahan tegas kepada personel Satgas TMMD ke-130 Kodim 0213/Nias. Momen intim ini menandai fase krusial pembangunan: ketika komando turun langsung ke level operasional, memastikan bahwa setiap batu yang dipasang dan setiap adukan yang dibuat memenuhi standar kelayakan huni, bukan sekadar mengejar target progres administratif.

 

banner 336x280

“Dari sini, dari tengah material inilah kita ukur keberhasilan. Jangan sampai rumah selesai tapi retak dalam setahun. Kita membangun tempat tinggal, bukan gudang,” tegas Serma Kurniawan di hadapan personel yang mendengarkan dengan saksama. Ia menekankan bahwa efektivitas kerja bukan tentang kecepatan semata, melainkan presisi dan kekompakan tim. “Disiplin di lapangan berarti saling mengingatkan jika ada yang kurang pas. Kerjasama kalian adalah fondasi yang tak terlihat, tapi paling penting,” tambahnya. Arahan ini disampaikan dengan latar belakang struktur kayu lama dan material baru, simbol transisi dari ketidaklayakan menuju kehidupan yang bermartabat.

 

Kehadiran Dantim yang memimpin briefing di lokasi konstruksi—bukan dari posko jauh—membuktikan bahwa pengawasan TMMD bersifat partisipatif dan berbasis realitas lapangan. Ketika seorang pemimpin duduk setara dengan anak buahnya di tengah debu dan bahan bangunan, ia sedang mengajarkan bahwa tanggung jawab moral terhadap keluarga penerima manfaat (Ibu Yutisa Halawa) adalah prioritas tertinggi. Warisan TMMD ke-130 di sini kelak tidak hanya berupa rumah yang berdiri kokoh, tetapi juga budaya kerja unggul yang lahir dari komunikasi langsung di titik nol pembangunan—simbol abadi bahwa Tentara Nasional Indonesia membangun dengan hati, dipimpin oleh contoh nyata, dan diwujudkan oleh prajurit-prajurit yang memahami bahwa di balik setiap batako terdapat harapan seorang ibu untuk tidur nyenyak di bawah atap yang aman.

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *