Dari Panggung Komunitas Menuju Industri Musik, Ussy Pieters Dorong Musisi Jabodetabek Terus Berkarya

BERITA14 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA — Memperkuat ruang tampil bagi musisi sekaligus membuka peluang kolaborasi menjadi semangat Festival Parade Band se-Jabodetabek 2026. Digelar oleh DPD PAPPRI DKI Jakarta di Concert Hall Deheng House, Jakarta Selatan, Minggu (25/10/2026), festival ini mempertemukan 24 band dengan beragam karakter musik dalam satu panggung.

Ketua DPD PAPPRI DKI Jakarta, Ussy Pieters, menginisiasi kegiatan tersebut sebagai langkah untuk menghidupkan kembali aktivitas para musisi dan mempererat hubungan di antara mereka. Baginya, keberlangsungan musik tidak cukup ditopang oleh kemampuan tampil, tetapi juga membutuhkan komunitas yang saling mendukung dan ruang untuk terus berkreasi.

banner 336x280

“Jadi, sebenarnya saya membuat acara ini untuk mengangkat para musisi. Kita silaturahmi, jadi bukan sekadar event. Setelah dampak pandemi kemarin, banyak musisi yang sempat vakum. Makanya, saya ingin mengajak mereka untuk tetap semangat dan terus berkarya,” ujar Ussy.

Festival menghadirkan spektrum musik yang luas, mulai dari keroncong, pop, jazz, rock klasik dan alternatif, dangdut, Melayu, R&B, funky soul, hingga salsa dan latin. Lagu-lagu dari The Beatles, Santana, God Bless, dan Koes Plus turut dibawakan, memperlihatkan pertemuan berbagai referensi musik dalam satu perhelatan.

Ussy menyebut keberagaman tersebut sebagai bagian dari upayanya membangun kegiatan musik yang terbuka bagi berbagai genre.

“PAPPRI itu kan musik. Jadi, gebrakan pertama saya adalah mengadakan acara ini. Ada 24 band dengan macam-macam genre. Ada keroncong, dangdut, Melayu, latin, sampai lagu-lagu Santana. Semuanya kita satukan di sini,” katanya.

Menurutnya, kesempatan tampil bersama dapat menjadi pintu awal bagi musisi untuk memperluas pergaulan profesional, saling bertukar pengalaman, dan menemukan kemungkinan kerja sama baru.

Sekretaris Jenderal DPP PAPPRI, Dwiki Darmawan, yang hadir mewakili Ketua Umum PAPPRI Tony Wenas, turut menekankan pentingnya festival sebagai ruang pengembangan potensi musisi. Ia menilai kegiatan semacam ini dapat mendukung kreativitas, memperluas jejaring, dan membuka kesempatan regenerasi.

“Festivalnya bukan sekadar ada tampil kemampuan, tapi juga membangun kreativitas dan memperluas jejaring serta memiliki kesempatan untuk regenerasi,” ungkap Dwiki.

Ia berharap kegiatan musik tidak hanya berhenti sebagai pertunjukan, melainkan turut berkontribusi pada penguatan industri kreatif dan kebudayaan nasional.

“Mari kita jadikan bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga kekuatan budaya, industri kreatif, dan yang paling penting pemersatu bangsa. Musik memang pemersatu bangsa. Dengan musik kita selalu bersatu,” ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan Tina Permatasari, Ketua Biro Hubungan Pemerintahan dan Kelembagaan DPD PAPPRI DKI Jakarta. Ia menilai festival tersebut menjadi kesempatan untuk membangun kembali semangat bermusik sekaligus memperkuat silaturahmi antarpelaku musik.

“Gebrakan dari ketua kita, Ibu Ussy Pieters, luar biasa sekali. Dengan adanya parade festival musik dari seluruh band, sebanyak 24 band yang hari ini tampil, ini sangat luar biasa. Jadi ajang silaturahmi untuk para musisi dan agar lebih kreatif untuk menghidupkan lagi musik Indonesia,” kata Tina.

Ia berharap jumlah peserta dapat bertambah dalam penyelenggaraan berikutnya. DPD PAPPRI DKI Jakarta juga menyiapkan rencana kegiatan musik lanjutan, termasuk agenda untuk memperingati Hari Musik Nasional pada Maret.

“Mungkin kalau sekarang ini 24 band, tahun depan kita akan naik lagi paradenya, tentunya dengan arahan dari Ibu Ketua kami,” tutur Tina.

Selain pengembangan komunitas dan industri musik, festival ini turut menyoroti tantangan yang dihadapi para kreator di tengah perkembangan teknologi. Ketua Umum Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI), Dr. Ir. Kun Wardana Abyoto, M.T., mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk dalam kaitannya dengan perlindungan hak cipta.

“Para seniman harus bisa belajar AI supaya tidak tergeser oleh AI. Sangat penting juga bagaimana kita melindungi para kreator musik agar hak ciptanya tidak dengan mudah diambil,” ujarnya.

Kun Wardana menegaskan bahwa teknologi sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan kualitas karya, bukan menghilangkan peran kreativitas manusia. Ia juga memandang musik sebagai sarana untuk mempertahankan budaya dan kearifan lokal Indonesia serta memperkenalkan karya anak bangsa ke tingkat global.

Sementara itu, Rizki Bustomi dari Perpustakaan Nasional RI menyoroti keterkaitan musik dengan literasi. Menurutnya, musik dapat menjadi medium komunikasi dan penyampaian informasi yang efektif untuk menjangkau masyarakat.

Festival tersebut turut dimeriahkan Ussy Pieters PAPPRI Choir yang membawakan lagu “Sampai Kapan” dan “Calypso”. Lagu “Sampai Kapan” merupakan single solo Ussy yang mengangkat refleksi spiritual mengenai kehidupan dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Ke depan, Ussy berencana menggelar festival dengan fokus pada lagu-lagu era 1970-an. Ia berharap program tersebut dapat memperluas variasi pertunjukan sekaligus menghadirkan kembali kekayaan repertoar musik dari berbagai generasi.

“Harapan saya, musisi tetap berkarya dan maju terus. Mudah-mudahan bisa berkembang di tingkat nasional maupun internasional,” kata Ussy.

Melalui Festival Parade Band se-Jabodetabek 2026, DPD PAPPRI DKI Jakarta berharap semakin banyak musisi memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan, memperluas jejaring, dan mengembangkan potensi. Upaya membangun komunitas yang aktif dan saling mendukung diharapkan menjadi salah satu fondasi bagi pertumbuhan musik Indonesia yang lebih berkelanjutan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed