BEKASI, 18 Oktober 2026 — Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika ratusan warga perantauan Maluku berkumpul di Jalan Bina Darma III No. 28 No. H, Jatiwaringin, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi. Musik senam mengalun. Para peserta mulai mengikuti gerakan instruktur, mengangkat tangan, melangkahkan kaki, dan menggerakkan tubuh mengikuti irama.
Di antara mereka, ada warga asal Kailolo yang menetap di Jakarta dan sekitarnya. Mereka datang bukan semata-mata untuk menjaga kebugaran. Pertemuan itu juga menjadi ruang untuk saling menyapa, mempererat hubungan, dan merawat ikatan sebagai sesama orang Maluku di tanah rantau.
Ikatan Keluarga Besar Kailolo (IKBK) berkolaborasi dengan Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Sehat Bersama, Kuat dalam Persaudaraan”, Minggu, 18 Oktober 2026, mulai pukul 06.30 WIB hingga selesai. Senam dipandu Erna Tamher dari FPMM dan Halim Marasabessy dari IKBK.
Kegiatan rutin tersebut mempertemukan warga dari berbagai latar belakang. Gerakan olahraga menjadi pintu masuk bagi sesuatu yang lebih besar: menjaga persaudaraan masyarakat Maluku agar tidak terputus oleh jarak, kesibukan, ataupun perbedaan lingkungan tempat tinggal.
Dari Halaman Rumah, Merawat Kebersamaan
Kegiatan itu dibuka oleh tokoh masyarakat Maluku, Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Suaidi Marasabessy, bersama Umar Ohoitenan, yang dikenal sebagai Umar Kei, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat FPMM.
Hadir pula Wakil Ketua Umum IKBK Musa Marasabessy, S.H., yang mewakili Ketua Umum DPP IKBK H. Abdul Latip Marasabessy, serta sejumlah tokoh masyarakat Maluku dan Kailolo.
Dalam sambutannya, Suaidi menyampaikan apresiasi kepada Umar Kei yang memfasilitasi kegiatan tersebut. Ia berharap senam bersama tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi terus berlangsung di berbagai kesempatan dan tempat.
“Terima kasih atas segala upaya untuk menyelenggarakan acara ini. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini akan terus berlanjut, kapan pun dan di mana pun,” ujarnya.
Bagi Suaidi, pertemuan semacam ini mempunyai arti lebih dari sekadar aktivitas fisik. Ia melihatnya sebagai kesempatan bagi masyarakat Maluku untuk membangun kesadaran bersama, melampaui batas kampung dan kelompok masing-masing.
Menurut dia, masyarakat Maluku perlu memperkuat kebersamaan dan mengambil bagian dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Persatuan itu, pada akhirnya, diharapkan dapat berkontribusi bagi pembangunan Maluku dan Indonesia.
Ia juga menaruh harapan kepada generasi muda yang hadir. Kepemimpinan, menurut dia, perlu terus tumbuh dari lingkungan masyarakat hingga kelak mampu mengambil peran yang lebih besar.
Umar Kei Mengajak Warga Maluku Bersatu
Umar Kei memandang senam bersama sebagai momentum untuk menghidupkan kembali hubungan antarkeluarga dan antarkomunitas Maluku.
Ia menyampaikan rasa hormat atas kehadiran Suaidi Marasabessy serta warga yang ikut meramaikan kegiatan tersebut. Baginya, kolaborasi IKBK dan FPMM merupakan langkah untuk memperkuat hubungan yang sudah terjalin sekaligus membuka ruang pertemuan yang lebih luas.
“Kegiatan ini menjadi sebab dan alasan bagi kita untuk menyatukan diri,” ujar Umar dalam sambutannya.
Ia mengajak masyarakat Maluku di perantauan agar lebih sering bertemu melalui kegiatan positif, terutama olahraga. Setelah hubungan antarsesama semakin dekat, komunikasi dan pertukaran gagasan dapat berlangsung lebih terbuka.
Umar juga menyampaikan harapan agar kegiatan serupa kembali digelar dalam dua pekan berikutnya. Ia mengundang keluarga besar Maluku, baik Muslim maupun Kristen, untuk hadir dalam pertemuan mendatang di kediamannya.
Ajakan itu menjadi bagian penting dari pesan yang ia sampaikan: persaudaraan Maluku tidak semestinya dibatasi oleh agama ataupun asal kampung.
“Kita olahraga, kita bersilaturahmi, lalu saling memberikan masukan dan pendapat. Tujuannya untuk kebaikan Maluku,” demikian inti pesan Umar.
FPMM, kata dia, juga berupaya menjaga hubungan dengan masyarakat melalui kegiatan sosial dan keagamaan. Organisasi tersebut ingin hadir sebagai bagian dari keluarga besar Maluku, termasuk ketika masyarakat membutuhkan komunikasi, dukungan, dan solidaritas.
Persatuan yang Melampaui Sekat
Bagi Suaidi Marasabessy, tantangan masyarakat Maluku di perantauan adalah membangun cara pandang yang tidak hanya berpusat pada lingkungan atau kelompok sendiri.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi contoh bahwa kebersamaan perlu dirawat melalui perjumpaan nyata. Masyarakat yang berasal dari kampung berbeda, menurut dia, tetap mempunyai kepentingan bersama untuk membangun daerah asal dan berkontribusi bagi Indonesia.
Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam pertemuan di Jatiwaringin. Para peserta datang dari lingkungan yang berbeda, tetapi mengikuti irama senam yang sama. Tidak ada podium yang memisahkan mereka ketika musik dimainkan; yang tampak adalah gerakan bersama dan sapaan antarsesama.
Olahraga menjadi medium sederhana untuk memulai percakapan yang lebih luas tentang solidaritas, kepedulian, dan masa depan masyarakat Maluku.
Di tengah kehidupan perantauan yang sering membuat hubungan sosial bergantung pada kesibukan masing-masing, kegiatan rutin semacam ini menyediakan kesempatan untuk kembali berkumpul. Hubungan yang dirawat melalui pertemuan kecil dapat menjadi modal bagi kerja sama yang lebih besar.
IKBK Dorong Kolaborasi Berkelanjutan
Musa Marasabessy, S.H., yang hadir mewakili Ketua Umum DPP IKBK H. Abdul Latip Marasabessy, menyampaikan terima kasih kepada jajaran FPMM atas inisiatif dan undangan untuk menyelenggarakan senam bersama.
Ia menilai kolaborasi kedua organisasi dapat menjadi landasan untuk mengembangkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menurut Musa, kebersamaan tersebut tidak harus berhenti pada olahraga. Ia berharap hubungan yang terbangun dapat dilanjutkan melalui berbagai kegiatan sosial, seperti santunan anak yatim, ceramah keagamaan, dan aktivitas kemasyarakatan lainnya.
Dengan demikian, pertemuan rutin dapat berkembang menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama sekaligus menjaga hubungan antarkeluarga Maluku di perantauan.
Kolaborasi IKBK dan FPMM juga menunjukkan bahwa organisasi kemasyarakatan mempunyai ruang untuk bekerja bersama dalam urusan yang dekat dengan kehidupan warga: kesehatan, silaturahmi, dan solidaritas sosial.
Menjaga Persaudaraan, Bukan Sekadar Menjaga Kebugaran
Ketika kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti arahan Erna Tamher dan Halim Marasabessy. Gerakan demi gerakan dilakukan bersama, sementara suasana keakraban menyertai aktivitas pagi itu.
Namun, ukuran keberhasilan kegiatan semacam ini tidak semata-mata terletak pada jumlah peserta atau meriahnya acara. Yang lebih menentukan adalah apakah pertemuan tersebut mampu menjaga komunikasi, menumbuhkan kepedulian, dan melahirkan kegiatan lanjutan yang bermanfaat.
Pesan para tokoh yang hadir mengarah pada harapan serupa: masyarakat Maluku perlu mempunyai ruang bersama yang terbuka, inklusif, dan berkelanjutan.
Senam bersama di halaman kediaman Umar Kei menjadi salah satu upaya untuk mewujudkannya. Dari gerakan olahraga, warga membangun kesempatan untuk bertemu. Dari pertemuan, mereka merawat silaturahmi. Dan dari silaturahmi, tumbuh harapan agar persaudaraan tetap kuat di tengah kehidupan perantauan.
Pagi itu, keringat menjadi bahasa yang mudah dipahami semua orang. Sebuah pengingat bahwa menjaga kesehatan adalah kebutuhan pribadi, sedangkan menjaga persaudaraan merupakan tanggung jawab bersama.
Sehat bersama, kuat dalam persaudaraan. Bagi IKBK dan FPMM, semboyan itu diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan, melainkan menjadi kebiasaan yang terus hidup di tengah keluarga besar Maluku.
















